Ratna Sarumpaet: Film Porno di Indonesia Laku Kok!
Ramainya pemberitaan soal rencana kedatangan bintang AV Idol Jepang, atau bintang film porno Jepang, Maria Ozawa alias Miyabi, yang disertai sikap pro dan kontra, membuat Ratna Sarumpaet jengah juga. Walau mengaku tak peduli, namun Ratna menyesalkan sikap antipati beberapa pihak yang dinilainya terlalu terburu-buru.
“Saya kadang-kadang suka terganggu sama sikap dan reaksi masyarakat, terutama MUI. Kalau mau, daripada ngelarang lebih baik ngerazia dan hentikan peredaran film-film porno di pinggir jalan. Kalau memang mereka mau memproduksi film, biarkan aja dulu. Kan nanti sebelum beredar masih ada proses seleksi atau sensor, kan ada lembaga tersendiri. Nanti di proses sensor itu kan akan dilihat kalau adegan-adegannya menjurus ke pornoaksi atau pornografi, ya silahkan dibuang,” kata Ratna saat ditemui di Menara Utara, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (29/9), di acara press conference filmnya, JAMILAH DAN SANG PRESIDEN.
Untuk diketahui, film JAMILAH DAN SANG PRESIDEN akan mewakili Indonesia untuk ikut festival film Hongkong, Bangkok, dan akan menjadi perwakilan Indonesia untuk masuk ke Academy Awards. Selanjutnya, Ratna juga menegaskan bahwa film apa yang akan dibuat Miyabi di Indonesia masih belum jelas.
“Jadi buat saya, ya saya nggak menolak juga nggak menyambut juga kedatangan Miyabi. Karena kita juga belum tahu dia di sini itu untuk main film apa. Emangnya dia mau main film porno? Lagi pula film porno di Indonesia laku kok, bahkan di Indonesia pun ada yang membikin film porno juga, dan itupun bukan salah dia (Miyabi, red),” imbuhnya.
Dan soal bagaimana seharusnya pemerintah ataupun kalangan sineas bersikap, Ratna mengingatkan bahwa sebenarnya di Indonesia telah banyak UU yang melarang pornografi. Jadi hendaknya biarlah lembaga-lembaga terkait yang menjalankan UU tersebut.
“Ya, ini kan sebenarnya peran MUI dan bahkan sudah ada Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi, jadi biar UU yang membatasi. Dia itu kan tamu, mau datang ke negara kita, kok malah dilarang. Kali aja dia mau bertamasya ke Bali gitu kan terus bisa memberitakan pariwisata kita ke negaranya, itu kan positif. Kalau saya, yang jadi pokok persoalan, kenapa video-video porno di sini itu bisa beredar? Itu seharusnya yang dipersoalkan. Jangan yang belum terjadi juga dipermasalahkan. Buat saya kedatangan dia itu nggak istimewa, tapi justru kalau dibesar-besarkan akan jadi istimewa dan bikin mereka senang. Jadi biarkan saja,” tandasnya.
Ramainya pemberitaan soal rencana kedatangan bintang AV Idol Jepang, atau bintang film porno Jepang, Maria Ozawa alias Miyabi, yang disertai sikap pro dan kontra, membuat Ratna Sarumpaet jengah juga. Walau mengaku tak peduli, namun Ratna menyesalkan sikap antipati beberapa pihak yang dinilainya terlalu terburu-buru.
“Saya kadang-kadang suka terganggu sama sikap dan reaksi masyarakat, terutama MUI. Kalau mau, daripada ngelarang lebih baik ngerazia dan hentikan peredaran film-film porno di pinggir jalan. Kalau memang mereka mau memproduksi film, biarkan aja dulu. Kan nanti sebelum beredar masih ada proses seleksi atau sensor, kan ada lembaga tersendiri. Nanti di proses sensor itu kan akan dilihat kalau adegan-adegannya menjurus ke pornoaksi atau pornografi, ya silahkan dibuang,” kata Ratna saat ditemui di Menara Utara, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (29/9), di acara press conference filmnya, JAMILAH DAN SANG PRESIDEN.
Untuk diketahui, film JAMILAH DAN SANG PRESIDEN akan mewakili Indonesia untuk ikut festival film Hongkong, Bangkok, dan akan menjadi perwakilan Indonesia untuk masuk ke Academy Awards. Selanjutnya, Ratna juga menegaskan bahwa film apa yang akan dibuat Miyabi di Indonesia masih belum jelas.
“Jadi buat saya, ya saya nggak menolak juga nggak menyambut juga kedatangan Miyabi. Karena kita juga belum tahu dia di sini itu untuk main film apa. Emangnya dia mau main film porno? Lagi pula film porno di Indonesia laku kok, bahkan di Indonesia pun ada yang membikin film porno juga, dan itupun bukan salah dia (Miyabi, red),” imbuhnya.
Dan soal bagaimana seharusnya pemerintah ataupun kalangan sineas bersikap, Ratna mengingatkan bahwa sebenarnya di Indonesia telah banyak UU yang melarang pornografi. Jadi hendaknya biarlah lembaga-lembaga terkait yang menjalankan UU tersebut.
“Ya, ini kan sebenarnya peran MUI dan bahkan sudah ada Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi, jadi biar UU yang membatasi. Dia itu kan tamu, mau datang ke negara kita, kok malah dilarang. Kali aja dia mau bertamasya ke Bali gitu kan terus bisa memberitakan pariwisata kita ke negaranya, itu kan positif. Kalau saya, yang jadi pokok persoalan, kenapa video-video porno di sini itu bisa beredar? Itu seharusnya yang dipersoalkan. Jangan yang belum terjadi juga dipermasalahkan. Buat saya kedatangan dia itu nggak istimewa, tapi justru kalau dibesar-besarkan akan jadi istimewa dan bikin mereka senang. Jadi biarkan saja,” tandasnya.










