Sekte Poligami Gereja Orang Suci Hari Kemudian yang Tengah jadi Penyelidikan Pengadilan Texas Sekte poligami berawal dari suatu kepercayaan yang disebut dengan fundamentalisme mormon. Dalam ajaran itu, terdapat beberapa elemen ajaran. Di antaranya, poligami, pembersihan dosa yang diturunkan, dan pelarangan orang kulit putih sebagai pendeta. Di antara beberapa elemen tersebut, poligami paling melekat. Ajaran mormon mulai dikenalkan dan merebak pada abad ke-19.
Joseph Smith Junior keluar dari ajaran tersebut dan mendirikan Gerakan Orang Suci Hari Kemudian (LDSM/Later Day Saint Movement). Smith kemudian mengepalai Gereja Yesus Kristus LDS atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja LDS (singkatan dari Later Day Saint, Red). Gereja itulah yang merupakan cikal bakal sekte poligami tersebut.
Pada 1930, Gereja LDS mulai menolak poligami. Pengikut yang tidak setuju kemudian pergi. Mereka mendirikan gereja sendiri dengan nama Gereja Fundamentalis Yesus Kristus LDS atau lebih dikenal sebagai FLDS. Awalnya, gereja mereka menyebar di Hindale, Utah, dan Colorado, Arizona. Sebuah sumber menyatakan, mereka juga mempunyai cabang di Eldorado, Texas.
Pada 2007, Gereja FLDS dipimpin Warren Jeff, menggantikan ayahnya, Rulon Jeff, yang memimpin sejak 2002. Setahun sebelumnya, Warren menjadi buron polisi karena kasus inses dan pemerkosaan. Dia ditangkap Agustus 2006. Pengadilan memutusnya bersalah dan mengganjarnya dengan hukuman penjara selama sepuluh tahun pada 25 September 2007. Dia berhenti jadi pemimpin sekte poligami 20 November 2007.
Jumlah penganut Gereja FLDS diperkirakan 6.000-10.000 orang. Setelah memiliki tanah yang dinamakan pertanian Yearning for Zion (YFZ ranch) di Eldorado, Texas, jumlah mereka diperkirakan bertambah. Mereka juga diperkirakan mempunyai koloni di Bountiful, Colombia.
Ajaran sekte tersebut adalah seorang laki-laki yang telah dewasa wajib memiliki istri minimal tiga orang. Wanita yang telah cukup umur dinikahkan dengan dalih sebagai wahyu yang diturunkan kepala gereja yang disebut dengan nabi. Nabi itulah yang berhak menentukan wanita-wanita tersebut akan menikah dengan siapa.
Para anggota sekte dilarang berpakaian secara modern. Baju-baju yang mereka pakai buatan sendiri. Mereka juga dilarang memiliki tanah maupun properti sendiri. Mereka tinggal di dalam gereja atau peternakan milik Gereja FLDS. Mereka juga mempunyai sekolah sendiri sehingga warga sekte itu nyaris tak pernah keluar.
Tidak semua orang bisa tinggal bebas di sekte tersebut. Ada juga yang diusir keluar dari komunitas. Anak laki-laki sekte poligami yang hilang (lost boys of polygamy) adalah sebutan untuk anak laki-laki yang dikucilkan dan dikeluarkan dari sekte poligami.
Usia mereka diperkirakan 13-21 tahun. Mereka biasanya diusir dengan alasan menonton film, bermain sepak bola, atau ketahuan mengajak bicara seorang gadis. Meski demikian, alasan sebenarnya adalah untuk mengurangi kompetisi pernikahan karena jumlah laki-laki berlebihan. Mereka baru boleh kembali ke sekte tersebut jika bisa membawa istri. Jumlah mereka diperkirakan 400-1.400 orang.
Meski kebutuhan akan wanita sangat banyak, anggota sekte itu menolak pernyataan bahwa jika ketahuan mengandung anak laki-laki, dia diaborsi. Selain anak laki-laki, ada pula anak perempuan yang diusir dari sekte tersebut. Hal itu hanya terjadi jika mereka menolak ikut dalam ajaran sekte poligami. Alasan utamanya, wanita-wanita tersebut tidak mau menikah dengan orang yang usianya sama dengan ayah maupun kakeknya.
Meski demikian, hal itu tidak selalu mulus. Para wanita yang ingin keluar biasanya ditakut-takuti dengan pernyataan bahwa di luar sekte, mereka akan dipaksa untuk berpakaian modern dan berdandan. Mereka juga menakut-nakuti anak gadis dengan menyatakan bahwa di dunia luar, mereka akan dipaksa berhubungan seksual dengan banyak lelaki serta dipaksa memotong rambutnya.
Orang-orang di sekte itu hidup layaknya orang pada abad pertengahan. Model rambut dan baju-baju mereka juga sama seperti yang dipakai orang-orang pada 1950-an. Rambut semua wanita di sekte tersebut umumnya panjang. Kehidupan mereka yang terisolasi itulah yang mengakibatkan anak gadis yang ingin pergi karena tidak setuju menikah mengurungkan niat karena takut akan dunia luar yang tidak mereka kenal.
Bagi anggota sekte poligami, meninggalkan komunitasnya adalah sebuah dosa dan hal memalukan. Sebagian di antara mereka bahkan menyatakan, pembunuhan masih lebih baik daripada meninggalkan komunitasnya.
Jika ada yang benar-benar pergi, mereka biasanya mengalami tekanan mental yang sangat berat. Sebab, saat meninggalkan sekte itu, mereka hanya mempunyai bekal kemampuan terbatas dan ketakutan akan dunia luar yang tidak mereka kenal. ( sumber/sha)
Joseph Smith Junior keluar dari ajaran tersebut dan mendirikan Gerakan Orang Suci Hari Kemudian (LDSM/Later Day Saint Movement). Smith kemudian mengepalai Gereja Yesus Kristus LDS atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gereja LDS (singkatan dari Later Day Saint, Red). Gereja itulah yang merupakan cikal bakal sekte poligami tersebut.
Pada 1930, Gereja LDS mulai menolak poligami. Pengikut yang tidak setuju kemudian pergi. Mereka mendirikan gereja sendiri dengan nama Gereja Fundamentalis Yesus Kristus LDS atau lebih dikenal sebagai FLDS. Awalnya, gereja mereka menyebar di Hindale, Utah, dan Colorado, Arizona. Sebuah sumber menyatakan, mereka juga mempunyai cabang di Eldorado, Texas.
Pada 2007, Gereja FLDS dipimpin Warren Jeff, menggantikan ayahnya, Rulon Jeff, yang memimpin sejak 2002. Setahun sebelumnya, Warren menjadi buron polisi karena kasus inses dan pemerkosaan. Dia ditangkap Agustus 2006. Pengadilan memutusnya bersalah dan mengganjarnya dengan hukuman penjara selama sepuluh tahun pada 25 September 2007. Dia berhenti jadi pemimpin sekte poligami 20 November 2007.
Jumlah penganut Gereja FLDS diperkirakan 6.000-10.000 orang. Setelah memiliki tanah yang dinamakan pertanian Yearning for Zion (YFZ ranch) di Eldorado, Texas, jumlah mereka diperkirakan bertambah. Mereka juga diperkirakan mempunyai koloni di Bountiful, Colombia.
Ajaran sekte tersebut adalah seorang laki-laki yang telah dewasa wajib memiliki istri minimal tiga orang. Wanita yang telah cukup umur dinikahkan dengan dalih sebagai wahyu yang diturunkan kepala gereja yang disebut dengan nabi. Nabi itulah yang berhak menentukan wanita-wanita tersebut akan menikah dengan siapa.
Para anggota sekte dilarang berpakaian secara modern. Baju-baju yang mereka pakai buatan sendiri. Mereka juga dilarang memiliki tanah maupun properti sendiri. Mereka tinggal di dalam gereja atau peternakan milik Gereja FLDS. Mereka juga mempunyai sekolah sendiri sehingga warga sekte itu nyaris tak pernah keluar.
Tidak semua orang bisa tinggal bebas di sekte tersebut. Ada juga yang diusir keluar dari komunitas. Anak laki-laki sekte poligami yang hilang (lost boys of polygamy) adalah sebutan untuk anak laki-laki yang dikucilkan dan dikeluarkan dari sekte poligami.
Usia mereka diperkirakan 13-21 tahun. Mereka biasanya diusir dengan alasan menonton film, bermain sepak bola, atau ketahuan mengajak bicara seorang gadis. Meski demikian, alasan sebenarnya adalah untuk mengurangi kompetisi pernikahan karena jumlah laki-laki berlebihan. Mereka baru boleh kembali ke sekte tersebut jika bisa membawa istri. Jumlah mereka diperkirakan 400-1.400 orang.
Meski kebutuhan akan wanita sangat banyak, anggota sekte itu menolak pernyataan bahwa jika ketahuan mengandung anak laki-laki, dia diaborsi. Selain anak laki-laki, ada pula anak perempuan yang diusir dari sekte tersebut. Hal itu hanya terjadi jika mereka menolak ikut dalam ajaran sekte poligami. Alasan utamanya, wanita-wanita tersebut tidak mau menikah dengan orang yang usianya sama dengan ayah maupun kakeknya.
Meski demikian, hal itu tidak selalu mulus. Para wanita yang ingin keluar biasanya ditakut-takuti dengan pernyataan bahwa di luar sekte, mereka akan dipaksa untuk berpakaian modern dan berdandan. Mereka juga menakut-nakuti anak gadis dengan menyatakan bahwa di dunia luar, mereka akan dipaksa berhubungan seksual dengan banyak lelaki serta dipaksa memotong rambutnya.
Orang-orang di sekte itu hidup layaknya orang pada abad pertengahan. Model rambut dan baju-baju mereka juga sama seperti yang dipakai orang-orang pada 1950-an. Rambut semua wanita di sekte tersebut umumnya panjang. Kehidupan mereka yang terisolasi itulah yang mengakibatkan anak gadis yang ingin pergi karena tidak setuju menikah mengurungkan niat karena takut akan dunia luar yang tidak mereka kenal.
Bagi anggota sekte poligami, meninggalkan komunitasnya adalah sebuah dosa dan hal memalukan. Sebagian di antara mereka bahkan menyatakan, pembunuhan masih lebih baik daripada meninggalkan komunitasnya.
Jika ada yang benar-benar pergi, mereka biasanya mengalami tekanan mental yang sangat berat. Sebab, saat meninggalkan sekte itu, mereka hanya mempunyai bekal kemampuan terbatas dan ketakutan akan dunia luar yang tidak mereka kenal. ( sumber/sha)











0 comments:
Post a Comment